Konsep Riasan
Untuk konsep rias akad dan resepsi, saya ingin riasan yang simple tapi elegant, tidak terlalu blink2 dan terlalu banyak menggunakan aksesoris. Apa yang saya inginkan tersebut diterjemahkan dengan sangat baik oleh Mbak Arnie. Aksesoris yang digunakan hanya lace berpayet, yang simple, sedikit glamour dan yang penting elegant. Hasil riasannya juga rapih, tidak medok, dan halus. Bahkan ketika saya tak kuasa menahan tangis ketika sungkeman pun, riasannya tetap baik-baik saja, lho! Hanya saja, walaupun hasilnya bagus banget (menurut saya) riasan mata smokey eyes dan bulu mata badainya membuat saya tidak mengenali diri saya.. waktu berkaca, itu bukan aku! hehehe.. Saya sempet nanya ke Ardi (iya, suami saya!) dan sahabat saya, riasnya ketebelan nggak sih? mereka bilang, nggak! Cakep! (yaiyalaah, kalo sampe suami bilang jelek, harus tidur di sofa dia! hahahaha). Memang sih, foto-foto dari fotografer kami masih belum jadi. Tapi, dari beberapa hasil foto yang sempat diambil teman2 dan mas Suryo (suami Mb Arnie, business manager rumah rias Arnie Suryo yang juga jago foto), hasil riasan Mb Arnie mantap banget!

Model Riasan
Menurut make-up artist yang memiliki segudang pengalaman dan telah mendalami rias pengantin dari berbagai daerah di Indonesia ini, bila kulit pengantin sudah halus, maka tidak diperlukan riasan yang tebal. Pengantin tradisional dapat tampil dengan riasan yang tidak terlalu kaya warna, akan tetapi mesti dipertimbangkan bagaimana menyesuaikannya dengan aksesori tradisional. Untuk pengantin Jawa misalnya, pensil alis warna coklat sepertinya kurang pas dengan pas warna hitam di dahi, bauran warna coklat tua mengarah ke hitam akan lebih tepat. Begitupun dengan warna bibir, pulasan warna merah akan nampak lebih cantik dibandingkan nude yang akan membuat pengantin terlihat seperti tidak memakai lipstick. Sementara untuk foundation dan bedak, sapuan yang tipis dan merata akan membuat riasan wajah terlihat lebih natural dan tidak berat. Sejak awal, saya memang menginginkan resepsi dengan baju akad saja, semua rangkaian acara tonenya putih! Di samping lebih hemat karena hanya perlu membuat satu kebaya saja, juga terlihat lebih klasik (menurut saya, lho..). Untuk membedakan kedua acara penting tersebut, Mb Arnie merubah style kerudung saya. Selain itu Mbak Arnie mentouch up make up saya menjadi lebih terang, blush on yang sedikit lebih terang dan lipstik merah (seperti request saya.. heheheh). Lumayan beda lho, jadinya.

Fashion Riasan
saya ingin keserasian, kerapihan dan total look. Dimana keserasian dapat dilihat dari penggunaan dasar make-up, alis, mata, blush on dan lipstick. Untuk kerapihan kami melihat dari tingkat kesulitan yang digunakan oleh perias dalam mengaplikasikan kosmetik LT PRO pada make-up yang digunakan untuk merias. Yang terakhir total look yaitu penilaian dari mulai busana yang dikenakan oleh pengantin, kesesuaian modifikasi asesoris, tata rias yang diaplikasikan dan rambut. Dengan tiga hal ini menjadi kunci utama wujudnya kecantikan busana pengantin modifikasi” tutur Evyawati selaku supervisor dari LT PRO bagian Indonesia Barat.Selain ingin mengembangkan seni busana nusantara, LT PRO juga ingin mengajak para perias Indonesia lebih mencintai produk kosmetik dari dalam negeri dan memperkenalkan produk kosmetiknya yang tak kalah dengan produk luar negeri. Dari kompetisi ini Sanggar Liza pun berharap agar dapat menemukan penata rias berbakat yang dapat dikembangkan lagi menjadi penata rias professional yang nantinya juga bisa menjadi salah satu ikon Sanggar Liza.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar